“kami hanya anak-anak yang dilahirkan jabat tangan,
terlahir dari rangkul dan pacul”
mereka hanya berteriak,
dan mereka hanya anak-anak.
manusia yang belum menginjak usia,
walau usia telah menginjak-injak mereka terlebih dahulu.
mereka merangkak
membuat jejak, membuat tapak.
meski tapak dan jejak harus dihisap kekhawatiran
dipakasa hilang oleh bayang dan remang-remang
cahaya pembangunan.
“kami hanya anak-anak yang menyusu pada payudara waktu.
mulut kami mengamit berkarung-karung kaleng,
mencumbu berlusin-lusin kardus.
tanpa tahu mana yang kudus dan mana yang akan hangus”
rintih mereka sekali-kali.
sambil terus merangkak, sambil terus berteriak.
“di mata kami tak ada belas kasih.
hanya dendam, selebihnya keterasingan
yang dalam”
mereka hanya anak-anak
terus berteriak
seperti meminta tapi tidak mau menerima
mereka hanya bisa menatap, meski tahu telah habis segala tatap
dan ratap.
sampai tubuh usia terus memanjati rambut mereka yang telah memerah.
marah
2009