Selimut Malam

I
Aku yang berselimut malam
sedikit mengintip dari cahaya pagi
mencoba bangun dari kegelapan
untuk mencari sang matahari

titipkan salamku pada air yang menjelma
mu, naik ke atas bersama mentari
membentuk rupamu,
hingga senja
aku berselimut malam.

II
selamat malam,
kuucapkan selamat berjumpa dengan cahaya kegelapan
semoga matamu terpejam seiring lagu yang kunyanyiklan
mengantarmu kedalam lelap menjumpa kesendirian

titipkan salamku pada selimut yang menjelma
malam, kan larut seusai berputar
matahari kan menjadi fenomena
hilang seperti supernova

Di pasar sederhana, laki-laki dan mimpi.

Lampu-lampu bergelantung dan bergoyang,
tak seimbang. Nasib raib. ghalib
melayang terkatung-katung.
Redup hinggap di remang malam.

Seperti ada seseorang sedang berjalan
memandang bulan,
menghitung waktu.

“Betapa banyak yang terserak tak tercatat almanak”
Bau menyeruak dari kata-katanya.

Ia memunguti harapan dari masa-masa silam.
Satu persatu, menjadi dua, menjadi tiga,
menjadi empat, menjadi lima dan seterusnya
hingga tak terhingga.

Ia menyesal pernah bermimpi-basah di siang hari.
saat malam hanya dijadikan pertengkaran dengan kelam.
Mengutuk bulan, mengutuk waktu.
Menyumpahi nasib dan lampu-lampu.

Di pasar sederhana, sisa-sisa mimpinya yang basah itu,
ia punguti dari darah yang netes pada gundukan sampah.
yang bertumpuk dengan busuk-busuk sayuran
Bercampur basah dan lumpur dari jalan-jalan.
Tapi Ia terus berjalan
dan terus memunguti harapan
sambil terus memandang bulan

sampai siang datang,
dan ia akan kembali membuat mimpi
mimpi yang lebih basah dari sebelumnya

2010

Pondok Hijau

Langkahku meninggalkan jejak
sedang jejak meninggalkan kaki
kaki-kaki melanjutkan langkahku

pagi kan datang pagi ini
tak kulewatkan malam
biar tak kunjung pergi pagi.

2009

Rintihan Ibu Pertiwi-Ku

Apa mau Mu???

Kenapa
Kau biarkan aku menjerit karena luka
Kau biarkan kami menjerit lantang
Kau biarkan aku menangis karena duka
Kau biarkan kami menangis kesakitan

Apa
karena aku terlalu angkuh
karena kami terlalu sombong
hingga aku dan kami lupa pada Mu

sering aku sesali
sebab kami tak mampu memahami

biarkan
aku hembuskan nafas sejenak
tuk membakar diri dalam kebencian
kami menutup mata sekejap
tuk setubuhi gelombang waktu

Aku masih mencaricari
Lembah ketenangan jiwa…

2009

Catatan Waktu (23:44)

jam tergeletak di samping asbak
rokok telah jadi abu

23:44

asap-asap lenyap.
gelap memerangkap. aku terperangkap
begitu lebam dan malam.

sengaja airmata aku pendam
agar merendam ingatanku akan kamu.

tapi waktu selalu mewaktu
tubuhnya terus tumbuh.
memanjang di satu sudut
dan memendek di sudut lainnya.

kamu atau aku, tak bisa apa-apa
dan apa-apa adalah waktu

2009

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.